27
Agustus 2010, adalah tanggal keberangkatanku. Tinggal dua hari lagi. Semua
keperluan sudah aku siapkan. Bahkan beberapa barang sudah aku masukkan ke dalam
koper. Namun tidak bisa aku pungkiri, hatiku tidak pernah tenang. Setiap hari
selalu merasa gelisah. Tidak jarang perasaan ragu menyergapku. Tapi semua sudah
terlanjur sampai disini. Aku tidak mungkin membatalkannya. Selain tenaga yang
terbuang juga dana yang aku keluarkan pun begitu besar. Mungkin ini hanyalah
bisikan syetan yang tidak akan pernah rela seseorang menempuh jalan kebaikan.
Mendekati
hari keberangkatanku, kamu terlihat semakin lemas. Seperti kehilangan semangat
hidup. Matamu selalu terlhat sembab karena terlalu banyak mengeluarkan air
mata. Aku merasa, bahwa akulah penyebab kamu seperti ini. Dulu kamu begitu
ceria. Senyummu begitu tulus, dan matam selalu berbinar. Namun saat ini dengan
kondisimu sekarang bagaimana mungkin aku bisa tenang meninggalkanmu. Bagaimana
mungkin aku bisa fokus untuk kuliah jika aku meninggalkanmu dengan keadaan
seperti ini. Hal inilah yang sering membayangiku, hingga perasaan ragu itu
kembali menyergapku. Apakah keputusanku ini sudah benar, atau semua ini
hanyalah keinginan nafsuku belaka. Tapi, entahlah. Yang aku inginkan saat ini
adalah melihat senyummu kembali merekah. Senyum yang selalu menggetarkan
jiwaku. Seperti senyum yang kamu suguhkan saat kita nekat bertemu di masjid
pesantren dulu. Kamu masih ingat itu kan Ya ? ohh, senyum itu. Betapa aku
merindukan senyum itu.
Hingga akhirnya hari keberangkatanku tiba.
Semua keperluan sudah tertata rapi dalam dua buah koper. Untuk paspor dan juga
berkas-berkas penting lainnya aku masukkan kedalam tas yang berbeda. Karena
takutnya nanti bercampur dengan yang berat-berat akan jadi lusuh. Ayah sudah
memanasi mobil, ibu juga terlihat sudah siap. Mereka akan ikut mengantarku
sampai ke bandara. Karena setelah itu, aku akan bergabung dengan calon
mahasiswa lainnya.
“sudah
setengah delapan Rey, ayo cepat” ayah mengingatkanku. Namun aku masih merasa
enggan untuk bangkit.bertahun-tahun aku menghabiskan waktu bersama ayah dan
ibu. Ingin ini, ingin itu tinggal minta. Namun, sebentar lagi duniaku akan
berbeda. Meski dulu aku juga pernah berpisah dengan ayah dan ibu waktu aku di
pesantren. Namun, dulu hampir satu bulan sekali mereka menjengukku. Bertemu
dengan mereka adalah obat kangenpaling mujarab sedunia. Tapi kali ini berbeda.
Pengembaraanku akan sangat jauh. Aku akan berjuang untuk hidup di negeri orang.
Tidak adak keluarga atau family yang akan mengurusiku. Semua akan aku lalui
sendiri. Dan tentunya tidak akan ada lagi suara lembut Ibu membangunkanku untuk
sholat shubuh. Juga tidak akan ada lagi suara ayah yang paling suka
mendendangkan lagu musisi Ebiet G.ad. semua itu hanya akan menjadi kenangan
yang terbungkus rapi dalam memori ingatanku. Yang akan menemani keseharianku
kelak. Namun yang lebih mengganjal dalam fikiranku adalah kamu Ya, bagaimana
dengan perasaan kamu ? sanggupkah kamu menungguku selama itu ?
Tidak
terasa air mataku meleleh saat aku mengingat saat-saat dimana kita pertama kali
nekat untuk merecanakan . Perasaanku semakin sendu jika ingat masa-masa kita
masih di pesantren.
Aku
mencoba untuk bangkit. Ayah dan ibu sudah menunggu di depan. Namun tiba-tiba
ponselku berdering. Fotomu terpampang dilayar.
“Assalamu’alaikum..”
kamu mengucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam,
ada apa Ya ?”
“Kamu
udah berangkat ?” tanyamu. Suaramu terdengar lirih.
“Belum,
sebentar lagi” jawabku.
“Apa
kamu sudah benar-benar yakin ?” suaramu serak. Tangismu kembali pecah.
Mendengar isakkanmu hatiku kembali luluh. Perasaan bersalah merasuki hatiku.
Apakah hanya karena demi mengejar cita-citaku yang tentunya aku sendiri belum
tahu kelanjutannya harus menyakiti orang-orang yang dengan tulus menyayangiku ? mendadak aku menjadi ragu. Sekilas terbesit
aku ingin membatalkan keberangakatanku, dan merajut mimpi bersamamu. Mengukir
kisah yang pernah kita angankan bersama. Namun, disisi lain, kesempatan ini aku
tunggu selama bertahun-tahun. Sejak masih di pesantren aku sudah
menginginkannya.
“Entahlah
Ya, aku berangkat dulu. Ayah sudah manggil. Assalamu’alaikum..” aku sengaja
menghindar dari pertanyaan itu darimu. Sebab jika nanti di bandara aku melihat
air matamu keluar atau kamu memintaku untuk tidak pergi, maka seketika itu pula
aku akan membatalkan keberangkatanku. Sudah cukup aku melukiskan kesedihan di
hidupmu. Aku tidak ingin mengulang masa lalu kelam yang hampir saja
menghancurkan hubungan kita. Terkadang keinginan tidak harus diwujudkan.
Adakalanya keinginan itu harus dihapus untuk memulai satu hal yang lebih
bermanfaat.
###
Ini
adalah kali kedua aku menginjakkan kaki di bandara internasional
Soekarno-Hatta. Dulu aku masih sekitar umur tigabelas tahun. Waktu itu ayah
mengajakku berkunjung pada teman lama ayah di Makassar. Kini, aku kembali
menginjakkan kaki di bandara ini lagi. Setelah memarkir mobil, aku langsung
menuju terminal 2D. Disana sudah terlihat ramai para calon mahasiswa yang
sedang mengenang momen-momen terakhir bersama keluarga. Aku memutuskan untuk
mecari tempat duduk yang lain. Tapi tidak terlalu jauh dari mereka. Tentu aku
mencari tempat duduk yang sepi. Sementara ayah dan ibu menemui petugas dari
kementerian agama. Sambil merebahkan tubuhku pada kursi, aku mengedarkan
pandanganku. Tentunya aku mencari kamu. Di ujung lorong sebelah kanan aku
melihat papa dan mamamu. Mereka berjalan menuju arahku. Namun aku tidak
menemukan kamu bersama mereka. Apakah kamu tidak mau menemuiku untuk yang
terakhir sebelum kita berpisah lama ? segitu sakit hatinya kah kamu padaku ?
sekelebat pertanyaan itu muncul dalam benakku.
“kok
disini Rey ? nggak ikut gabung sama calon mahasiswa yang lain ?” tanya mamamu
yang kini sudah berada di depanku.
“lagi
pengen menyendiri tante” jawabku sambil masih mencari-cari keberadaanmu.
“kamu
cari Raya ?” tanya mamamu. Mungkin mamamu sudah tahu, sejak tadi aku terlihat
sedang mencari seseorang.
“iya
tante, emang Raya nggak ikut ?” tanyaku.
“ikut,
tapi tadi katanya mau ke toilet dulu. Tapi udah dari tadi kok nggak
kembali-kembali ya..” tutur mamamu. Perasaan lega sedikit terasa. Ternyata aku
terlalu berlebihan kepadamu. Kamu pasti datang Ya, hanya saja aku yang terlalu
pesimis.
“pa,
coba papa susul Raya gih, masak di toilet kok hampir setengah jam.” Kata mamamu
pada papamu. Terlihat mamamu khawatir tejadi apa-apa denganmu. Begitu juga
denganku Ya, apa yang terjadi padamu ? apa kamu sengaja tidak mau menemuiku.
Dan sengaja mencari alasan untuk ke toilet yang tidak lain karena ingin
menghindariku. Lalu papamu beranjak menuju toilet dimana tadi kamu tuju. Sejurus
aku ingin ikut memastikan kalau kamu tidak kenapa-napa, namun tiba-tiba suara
ayah memanggilku.
“rey,
sini dulu. Kamu belum ngisi daftar hadir” suara ayah setengah berteriak. Ibu
yang tahu kalau ada mamamu disampingku langsung menghampiri mamamu. Dan aku
berlari kearah ayah bersama beberapa petugas dari Kementerian Agama. Setelah
aku mengisi daftar hadir aku bersalam-salaman dengan beberapa calon mahasiswa
dari berbagai daerah di Indonesia. Aku sempat kesulitan berbicara dengan calon
mahasiswa dari Madura. Dia sering menggunakan bahasa asli daerahnya. Dan aku
yang tidak begitu faham dengan maksudnya hanya menganggukkan kepala saja.
Ditengah
perbincanganku dengan beberapa calon mahasiswa tadi, tiba-tiba terdengar suara
jeritan dari ujung lorong terminal 2D. Beberapa orang berhamburan menuju sumber
suara. Aku pun ikut berlari ingin melihat apa yang terjadi. Karena banyaknya
orang dan juga ada yang masih menenteng tasnya membuatku sedikit kesulitan
untuk berlari. Sesampainya di tempat kejadian aku masih bisa melihat ada
seseorang perempuan yang bersimbah darah di kepalanya. Seperti bekas benturan.
Namun aku tidak jelas melihat wajahnya. Rasa penasaran mengalahkan desakan
orang-orang. Aku ingin lebih dekat melihat wajah perempuan bernasib malang
tersebut. entah mengapa Ya, aku sendiri pun tidak tahu, aku hanya mengikuti
kata hatiku. Setelah cukup dekat, seperti tidak percaya rasanya. Hatiku terasa
remuk redam kala melihat perempuan yang bersimbah darah itu adalah kamu. Wajah
putihmu yang masih terbalut jilbab merah muda, terlihat basah oleh darah. Darah
segar mengucur dari keningmu. Apa yang terjadi padamu Ya ? kenapa semua ini
bisa terjadi ? . tidak beberapa lama datang tim medis dari bandara. Meraka
membawamu dengan meja dorong dan berjalan cukup cepat untuk memberikan
pertolongan padamu.
Waktu
itu sudah tidak memikirkan keberangkatanku. Aku tidak mungkin meninggalkanmu
dengan keadaan seperti ini. Biarlah aku jadi gembel di Indonesia, asal aku
masih bisa berada disisimu. Aku mengambil dua buah koperku dan membawanya masuk
ke mobil. Ayah ternyata mendukung keputusanku untuk membatalkan
keberangkatanku. Begitu pula dengan ibu. Setelah aku pastikan barangku tidak
ada yang ketinggalan di bandara. Ayah langsung memacu mobil dengan kecepatan
cukup tinggi untuk menuju rumah sakit dimana kamu dirawat. Selama di jalan
bayangan wajahmu yang bersimbah darah terus menyergapku. Apa yang telah aku
lakukan ? sehingga kamu menjadi seperti ini Ya ? aku terus memaki diriku
sendiri.
Sesampainya
di rumah sakit, aku langsung menuju ruangan dimana kamu dirawat. Karena tadi
ibu sudah menelepon mamamu menanyakan di ruang mana kamu dirawat. Jadi aku
tidak butuh waktu lama untuk menemukan ruangannya. Dari jarak yang cuktup jauh
aku bisa melihat mamamu duduk di depan sebuah ruangan ICU. Terlihat mamamu
masih menangis. Dan sampingnya ada papamu yang juga terlihat gelisah.
Berkali-kali papamu mengintip jendela ruang kamu dirawat.
“Assalamu’alaikum,
tante..” aku mengucapkan salam setelah sampai di ruang kamu dirawat. Melihat
kedatanganku, mamamu langsung memegang tanganku. Tangannya gemetar. Sambil
menangis mamamu tanya, ada apa sebenarnya ?
“Rey,
jawab tante. Ada apa sebenarnya ? apa yang terjadi ?” suara mamamu gemetar.
Tangisnya kembali pecah. Aku mendengar pertanyaan mamamu seperti orang bisu.
Lidahu kelu untuk menjawabnya. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Bagaimana
mungkin ada orang yang begitu kejamnya sama kamu. Aku janji Ya, jika aku tahu
siapa yang melakukan semua ini. Seumur hidup aku tidak akan memaafkannya.
Menyakitimu berarti juga menyakitiku. Bahkan lebih perih rasanya bagiku. Karena
aku tidak bisa melindungimu.
“kenapa
Rey...jawab tante..” suara mamamu membuyarkan lamunanku. Mamamu masih menangis.
Aku merasakan kesedihan yang luar biasa dirasakan mamamu. Ibu mencoba untuk
menghibur mamamu. Namun tampaknya mamamu sangat terpukul.
“Reyhan
nggak tahu tante...tapi Reyhan janji. Reyhan akan mencari tahunya sampai
ketemu. Reyhan janji”
“terima
kasih Rey, terima kasih..” ucap mamamu.
Komentar
Posting Komentar